Archive for July, 2007

PAWANG BUAYAWATI

Sunday, July 29th, 2007

Udah lama gw pengen nulis ini. Wel… agak aneh juga gw mulai untuk in relationship, masih ada yang bertanya-tanya? tanyalah, dan jawab sendiri mengapa, mungkin gw lebih butuh jawaban kalian daripada  pertanyaan kalian yang isinya kenapa gw mulai memilih in relationship..
Untuk mencari tumbalkah?
atau kamuflasekah?

Saat gossip yang bukan hanya gossip itu menyebar (gossip gw in relationship), teman2 gw malah bertanya, "sama yang mana?"
Atau "hah, sama yang itu? bukannya lo kemarin dianterin pulang sama A***** ?
Atau, " Hah, eta co kemaren bukan co na?"
malah ada yang mengajak gw gabung ke dalam komunitas buayawati.
Btw… LPP juga komunitas buaya wati loh, walau banyak yang sudah punya pawang..

Pawang? apakah definisi pawang adalah penjinak?
Kalau itu definisinya, mungkin, buayawati yang satu ini gak akan punya pawang dalam ranah cinta-cintaan. (halah basanya mulai nyampah)..
kasian pawangnya diterkam mulu, mana pawangnya canggungan lagi, mangsa empuk nih…
tapi dalam urusan yang lain, bolehlah…

Pawang gw yang satu ini cukup ampuh untuk menurunkan sedikit ego gw, buktinya adalah gw mau nerima dia yang baru dekat beberapa mingu ajah.
Mungkin juga pawang gw juga seorang kadal, jadi berasa enak aja kalau bermain-main dengan sesama makhluk liar.
Hohohoho….

Gw mau cerita dulu tentang kisah si buaya dengan pawangnya…

Pawang buaya yang satu ini mungkin juga bukan yang terbaik diantara yang lainnya, tapi si buaya tertarik dengan kecanggungannya yang alami, dan semua kesederhanaan yang ada dari calon pawang yang baru saja mengajukan lamaran untuk berprofesi sebagai pawang buaya.
Awalnya dia berpikir untuk menjadikan laki-laki itu mangsa empuk.
Namun, ketika si buaya terluka, laki-laki itu berusaha menyembuhkan lukanya, menyuapi makanan ke mulut si buaya yang mungkin saja bisa langsung melahap tangannya.
Si buaya berpikir, jika aku besok sembuh, aku akan makan kenyang, makan anak manusia yang canggung dan malu-malu itu…
dia terus berpikir seperti itu, hingga akhirnya ia sembuh…
saat sembuh, si buaya malah ingin sakit selamanya, sehingga laki-laki itu ada di sampingnya.
karena dia berpikir, jika ia sehat, ia akan melukai laki-laki itu….
Si buaya takut sekali bila melihat laki-laki itu sakit karenanya, tapi dia ingin tetap ada di sampingnya…

Akhirnya, si buaya betina angkuh, sok, dan keas kepala dan jago memanipulasi kondisi ini (entah bagaimana caranya buaya bisa negosiasi dan mengatur situasi), mengatur rencana untuk menjadikan laki-laki itu menjadi pawang buaya.
si buaya tahu, laki-laki itu pasti akan menjadi pawang buaya untuknya, namun, itu hanya soal waktu.
untuk buaya, waktulah yang menjadi soal,
Dekat dengannya tanpa statusnya yang bukan pawangnya, akan menyalakan insting kebuayawatiannya dan memakan laki-laki itu bulat2.
Dan si buaya takut akan hal itu (halah, ini buaya cukup plin-plan apa kepribadian ganda yak ?)

tanpa di duga si buaya, laki-laki itu melamar menjadi pawang buaya di kandangnya yang hanya berisi 1 buayawati, buaya itu sendiri
Buaya itu cukup kaget dan senang, karena menurut perkiraannya, laki-laki itu akan menjadi pawangnnya sekitar 1 atau 2 minggu lagi.
Cerita berakhir sampai dengan hari-hari menyenangkan si buaya dengan pawangnya, yang mungkin saja bisa jadi mangsa empuknya jika dia hilaf….

….its happy ending isn` it?..

yah, itulah fabel gw tentang buayawati dan pawangnya, Kayak cerita klasik Russia "Anak Kuda Bungkuk" yah?
Mungkin saja ini jadi jawaban kenapa gw memilih in relationship, dan semoga dapat menjadi inspirasi buayawati lain…

Ps: buayawati terlahir sebagai buayawati….

Ada pesan juga dari temen gw yang baca tulisan ini sebelum gw post di blog gw :
" NYAMPAH LO DIF, TULISANLO YANG PALING GAK JELAS YANG GW BACA"

PERTEMUAN MAHASISWA YANG ANEH

Sunday, July 29th, 2007

Saya
baru menyadari akhir-akhir ini pelajar
Indonesia, khususnya mahasiswa yang aku temuain di pertemuan BEM di Bandung yang
sedang membahas isu Pilkada ini punya pikiran
dangkal yang mau buru-buru aja. Masih aneh aja kalo ada negara yang punya
kualikasi pendidikan untuk menyeleksi calon pemimpinnya. Semua negara maju gak
akan pernah lagi membatasi calon pemimpinya dengan batas akademis formal yang
sbenarnya bukan melanggar hak asasi saja, tapi juga
merugikan bangsa itu juga.

Di
pertemuan BEM bandung ini, kita sedang membahas tentang pemimpin ideal yang
akan kita ungkapkan ke masyarakat. Beberapa syarat yang telah kita bahas dan
sepakati adalah :

1. Pemimpin
tersebut tidak pernah dan tidak akan pernah terkena “kasus”

(entah gimana caranya mahasiswa jadi peramal, sedangkan jurusan yang tersedia
adalah astronomi dan bukan astrologi),

2. Bertakwa
terhadap tuhan yang maha esa
(well,,, bererti orang atheis
gak akan pernah jadi presiden, udah melaggar hak juga gak sih? )

3. (Sumpah, ini yang sebenarnya saya
tentang tapi mau gak mau saya sepakatin Cuma gara-gara saya yakin walau argumen
saya yang paling logis tapi mereka gak akan sepakat entah kenapa… apakah karena
mereka memang belum siap dengan kelogisan macam itu atau karena pembahasan
mereka tentang materi memang belum cukup) Calon pikada minimal berijazah S1. (bayangkan,
mereka tadinya sepakat bahwa calon pilkada minimal berijazah S2, wah, menurut
saya itu semakin menutup peluang kemungkinanan manusia-manusia berkualitas. karena
sudah yakin dengan karakter peserta sidang yang saya lihat pasti menolak, saya
langsung ganti mengusulkan bagaimana jika S1 saja. Dengan argument ada
kemungkian kita merusak keidealan calon pemimpin kita sendiri dengan pembatasan
akademis yang menurut saya aneh ini)

4. Abis itu saya lupa……

Itulah
anehnya, kita yang ada di pembahasan Pilkada Bandung ini kan akan mengampanyekan calon
pemimpin ideal yang telah kita sepakati ini, tapi menurut saya, dengan
memberikan batas akademis, kita tidak mengkampanyekan pencalonan yang ideal.
Seharusnya mahasiswa dapat memberikan contoh sesuatu yang tidak melanggar HAM, supaya
,masyarakat dapat belajar untuk mengenal hukum yang berdasarkan HAM. Dengan memberikanpembatasan ini, dengan alas
an kita juga bisa dapat mengkampanyekan tentang pentingnya pendidikan
(sepertinya tidak perlu begini juga caranya mengkampanyekan pentingnya
pendidikan, ada banyak cara dong… ini malah seperti mengkampanyekan ‘lupakan
saja HAM, kita cari pemimpin berkualitas sesuai dengan akademisny’, yang menurut
saya belum tentu bisa didapat dengan pembatasan akademis karena pemimpin itu
tidak hanya berteori duduk di bangki kuliah. Pemimipin itu kerja praktek,
melatih sensibilitas, kemampuan menyelesaikan masalah, menghaddapi masyarakat,
dan semua itu dapat dilatih dengan berorgnisasi. )

Sepertinya kita
inilah yang membuat masyarakat mencari pemimpin yang tidak ideal dengan cara
yang tidak ideal. Membuat masyarakat melihat sebelahmata dengan melihat mana
calonnya yang berpendidikan tinggi saja. Bukan programnya. Membuat masyarakat
lupa tentang pentingnya HAM yang seharusnya dapat kita, mahasisw, contohkan
karena mahasiswa biasanya mendapatkan informasi terntang apapun lebih mudah.

PELACUR-PELACUR POLITIK

Thursday, July 12th, 2007

Gw lagi baca buku dari seorang yang  menyenangkan  dan ternyata sangat mengenal dan menerima gw. Seorang yang melihat DIFA sebagai DIFA dan DIVA sebagai DIVA, Andaikan ya Ndra…..

Sebuah buku karya Paul I. Wellman, "The Female".
Tentang seorang pelacur yang bangkit dari keaiban dunia mesum untuk meraih kemulian sebagai MAHARANI yang memerintah seluruh dunia ROMAWI pada abad ke 6…

Theodora…
Penjelmaan seluruh pesona dan kelicikan perempuan yang kebutuhannya tak bisa dipenuhi oleh adam manapun. Makhluk indah yang mengalir tanggung jawab seks yang penuh rahasia mengerikan. pribadi yang sangat subjektif dalam pikiran dan perasaan, sadar akan kelemahan, tak tergoyah dalam keputusannya, tak berkasih dalam realismenya. Perempuan yang kenal tujuan dengan keambisiusan yang cerdas dan menggoda, melihat semua pelajaran dengan mata tajam yang membius politikus konstantinopel sehingga mereka bak anjing sang maharani dari jalan hawa -sarang pelacuran yang paling terkenal dan terbusuk di dunia- sampai akhirnya menaklukkan suatu bangsa, ROMAWI…   

Kecerdasan yang hanya bisa didapatkan oleh seorang pelacur yang terbiasa menyeleksi ‘permainannya’ yang tidak munafik seperti gadis-gadis bangsawan yang polos dan hanya tau bahwa hidupnya untuk menyenangkan sang suami yang harus dia agungkan, bukan untuk menyenangkan hidup mereka sendiri. Mereka tidak ditiduri, tapi meniduri pria-pria itu dalam buaian mereka. Pelacur- pelacur politik yang meniduri tiap kekuasaan dan rahasia-rahasia mahal yang hanya diketahui oleh segelintir saja orang-orang terpilih.

 

Inspired huh?
pelacur-pelacur politik inilah pemegang kekuasaan sebenarnya. Dan pelacur yang tertulis tidak hanya dapat diartikan dalam maksud yang sebenarnya.
Mungkin, kita semua adalah pelacur-pelacur demokrasi….
Mungkin, kita semua adalah pelacur-pelacur hukum….
Mungkin, kita semua adalah pelacur-pelacur sejarah….
Bukan hanya sampah ranjang saja….