mengAKU

        Menurut KTP, subjek aku yang akan
dideskripsikan di sini bernama Difa Kusumadiani, berjenis kelamin perempuan, belum
menikah, lahir pada tanggal 22 september 1987 di daerah Bekasi, bertempat
tinggal di bla bla bla, bergolongan darah AB, dan seterusnya. Selain itu “Aku” juga
dideskripsikan sebagai anak pertama dari 6 bersaudara, dari orang tua yang
melahirkan, membesarkan, dan memberikan pelajaran terbesar, pelajaran untuk
bertanya. Menpunyai  genetik seperti bla
bla bla yang membentuk ”Aku” dan dapat dikatakan sebagai homo sapiens. Yang
dituntut untuk bisa mendefinisikan “Aku” dari genetiknya. Yang mempunyi sejarah
dalam lama hidupnya, yang melihat sejarah di sekitarnya dan membentuk
ke”Aku”annya.

 

 Seorang
“Aku” adalah manusia yang juga dapat menilai dirinya. “Aku” menilai dirinya
sebagai orang yang ambisius, keras kepala, narsisist, keibuan, dan segala sifat
yang ada pada diri “Aku” yang akan terlalu banyak dan membuat essai ini semakin
kehilangan inti. Itulah nilai yang diberikan “Aku” pada dirinya. Mungkin saja
berbeda dari penilaian dari orang lain. Mungkin saja penilaian itu dibentuk
dari orang lain.

 

 Namun,
bisakah seorang “Aku” mendefinisikan dirinya? Yang seorang “Aku” lihat dari
tulisannya dia atas hanyalah deskripsi, hanya penilaian, baik didasari oleh
fisik atau pemikiran ke”Aku”an dari “Aku”, itupun bisa didasari oleh ketahuan
dan ketidaktahuan dari “Aku” yang lain. Bukan definisi dari ke”Aku”annya.
Pertanyaan mendasar yang sering ditanyakan atau ditidakpedulikan oleh “Aku”
lainnya. Pertanyaan terdalam bagi “Aku” yang ingin tahu ke”Aku”annya seperti “Aku”.

 

 Aku
hanyalah meng”Aku” dan terus men”Aku” sampai “Aku” berhenti untuk meng”Aku”.
“Aku” menjadi “Aku” ketika nafas, pikiran, detak, sel-selnya tidak meng”Aku”
lagi. Ketika nafas ini berhenti selamanya, ketika seorang “Aku” tidak ada lagi,
tidak apa formula genetik bernama “Aku” lagi yang hidup. Seumur hidupku, “Aku”
tidak pernah menjadi “Aku”. Karena aku adalah “Aku” setelah mati ragaku.
Setelah raga tidak lagi membatasi ke”Aku”anku

 

 Jika
“Aku” terdiri dari air, tanah, udara, logam, dan apapun itu, semoga “Aku” nanti
adalah semua itu. Jika aku berada di kiri, kanan, depan, belakang, tengah,
atas, bawah , semoga “Aku” nanti adalah semua itu. Jika aku dikenal ataupun
menilai diri sebagai orang yang ambisius, narsisist, kapitalis, Marxis,
idealis, koleris, taktis, pragmatis, theis, bahkan atheis, atau sifat-sifat
lain yang aku tidak tahu definisinya, semoga “Aku” nanti adalah semua itu.
Nilailah aku dari pemikiranku, jangan dari fisikku yang membatasi ke”Aku”anku,
definisikan aku dalam pikiranmu, namun aku akan terus meng “Aku”. Karena “Aku”
berharap menjadi “Kamu”, “Kalian” , “Mereka”, “Kita”, menjadi “Aku” yang
berhenti meng”aku”. Ketika tidak dapat lagi meng”Aku”.

 

  Aku ingin lebih meng”Aku”
lebih kuat, lebih bebas, dan lebih jelas lagi. Pikiranku tantang ke”Aku”an ini
terlalu terhambat oleh kata, suara waktu, dan ruang sedang dijalani dalam
ke”Aku”an. Aku ingin ke”Aku”an ini tidak hanya untukku, tapi juga untuk “Aku”
yang lain yang juga akan menjadi “Aku”, “Kamu”. “Dia”, “Kami”, “Mereka”, “Kita”.
Seperti “Aku” ketika berhenti meng”Aku”.

Leave a Reply