Archive for April, 2007

mengAKU

Saturday, April 28th, 2007

        Menurut KTP, subjek aku yang akan
dideskripsikan di sini bernama Difa Kusumadiani, berjenis kelamin perempuan, belum
menikah, lahir pada tanggal 22 september 1987 di daerah Bekasi, bertempat
tinggal di bla bla bla, bergolongan darah AB, dan seterusnya. Selain itu “Aku” juga
dideskripsikan sebagai anak pertama dari 6 bersaudara, dari orang tua yang
melahirkan, membesarkan, dan memberikan pelajaran terbesar, pelajaran untuk
bertanya. Menpunyai  genetik seperti bla
bla bla yang membentuk ”Aku” dan dapat dikatakan sebagai homo sapiens. Yang
dituntut untuk bisa mendefinisikan “Aku” dari genetiknya. Yang mempunyi sejarah
dalam lama hidupnya, yang melihat sejarah di sekitarnya dan membentuk
ke”Aku”annya.

 

 Seorang
“Aku” adalah manusia yang juga dapat menilai dirinya. “Aku” menilai dirinya
sebagai orang yang ambisius, keras kepala, narsisist, keibuan, dan segala sifat
yang ada pada diri “Aku” yang akan terlalu banyak dan membuat essai ini semakin
kehilangan inti. Itulah nilai yang diberikan “Aku” pada dirinya. Mungkin saja
berbeda dari penilaian dari orang lain. Mungkin saja penilaian itu dibentuk
dari orang lain.

 

 Namun,
bisakah seorang “Aku” mendefinisikan dirinya? Yang seorang “Aku” lihat dari
tulisannya dia atas hanyalah deskripsi, hanya penilaian, baik didasari oleh
fisik atau pemikiran ke”Aku”an dari “Aku”, itupun bisa didasari oleh ketahuan
dan ketidaktahuan dari “Aku” yang lain. Bukan definisi dari ke”Aku”annya.
Pertanyaan mendasar yang sering ditanyakan atau ditidakpedulikan oleh “Aku”
lainnya. Pertanyaan terdalam bagi “Aku” yang ingin tahu ke”Aku”annya seperti “Aku”.

 

 Aku
hanyalah meng”Aku” dan terus men”Aku” sampai “Aku” berhenti untuk meng”Aku”.
“Aku” menjadi “Aku” ketika nafas, pikiran, detak, sel-selnya tidak meng”Aku”
lagi. Ketika nafas ini berhenti selamanya, ketika seorang “Aku” tidak ada lagi,
tidak apa formula genetik bernama “Aku” lagi yang hidup. Seumur hidupku, “Aku”
tidak pernah menjadi “Aku”. Karena aku adalah “Aku” setelah mati ragaku.
Setelah raga tidak lagi membatasi ke”Aku”anku

 

 Jika
“Aku” terdiri dari air, tanah, udara, logam, dan apapun itu, semoga “Aku” nanti
adalah semua itu. Jika aku berada di kiri, kanan, depan, belakang, tengah,
atas, bawah , semoga “Aku” nanti adalah semua itu. Jika aku dikenal ataupun
menilai diri sebagai orang yang ambisius, narsisist, kapitalis, Marxis,
idealis, koleris, taktis, pragmatis, theis, bahkan atheis, atau sifat-sifat
lain yang aku tidak tahu definisinya, semoga “Aku” nanti adalah semua itu.
Nilailah aku dari pemikiranku, jangan dari fisikku yang membatasi ke”Aku”anku,
definisikan aku dalam pikiranmu, namun aku akan terus meng “Aku”. Karena “Aku”
berharap menjadi “Kamu”, “Kalian” , “Mereka”, “Kita”, menjadi “Aku” yang
berhenti meng”aku”. Ketika tidak dapat lagi meng”Aku”.

 

  Aku ingin lebih meng”Aku”
lebih kuat, lebih bebas, dan lebih jelas lagi. Pikiranku tantang ke”Aku”an ini
terlalu terhambat oleh kata, suara waktu, dan ruang sedang dijalani dalam
ke”Aku”an. Aku ingin ke”Aku”an ini tidak hanya untukku, tapi juga untuk “Aku”
yang lain yang juga akan menjadi “Aku”, “Kamu”. “Dia”, “Kami”, “Mereka”, “Kita”.
Seperti “Aku” ketika berhenti meng”Aku”.

Ayah,Kartini akan menjadi apa?

Monday, April 23rd, 2007

“Ayah, Kartini
kelak akan jadi apa yah?” tanya Kartini sepulangnya dari sekolah.

 Orang tua itu terkejut dengan
pertanyaan putrinya. Ia tidak menjawab. Memang ia tidak mau menjawabnya. Anak
yang dicintainya itu tentu tidak akan mengerti. Jawabnya hanya sebuah
senyuman,sementara tangannya terus mengusap-usap kepala anaknya. Kartini
bertanya lagi, dan ayahnya hanya bisa tersenyum mendengar puri kecilnya
menanyakan hal itu

 Jika seorang Kartini tidak
pernah sekalipun dalam benaknya menanyakan hal itu, Ia mungkin hanya akan
menjadi Raden Ayu. Hanya menjadi istri seorang bangsawan seperti ibu-ibunya.
Menjadi seorang raden ayu yang anggun, dengan langkah hampir tidak bersuara dan
suara yang hampir tidak terdengar jika berbicara. Siapapun dapat menjadi aden
ayu, tapi siapapun belum tentu bisa menjadi seorang Kartini yang kritis dalam
kerangkeng adat yang juga sangat dia cintai.

 Kartini lahir ketika marak
pencabutan tanam paksa. Ayahnya adalah R. M. A. Sosroningrat, seorang bupati
jepara dan ibunya bernama Ngasirah, anak dari mandor pabrik gula mojang.  Ayah Kartini adalah bangsawan yang mendapat
pendidikan Barat. Karena kakek Kartini , Pangeran Ario Tjondronegoro dari
Demak, adalah bupati pertama di Jawa tengah yang memberikan putra-putranya
didikan barat agar putra-putranya agar mendapatkan kemajuan dalam pendidikan.
Ayah Kartini pun mengikuti jejak ayahnya dengan memberikan putra-putrinya
pendidikan.

 “Tidak, ayah tidak jahat,” kata Kartini
kepada adiknya. “Ayah baik. Ayah sudah menyekolahkan kita. Padahal jarang anak
perempuan ke sekolah jaman sekarang. Ayah baik. Betul-betul baik. Hanya adat
yang kurang baik. Adatlah yang memaksa saya berhenti sekolah.” 

Pendidikan resminya hanya sebentar. Ia dipingit ketika berusian 12
tahun. Namun karena pingitan yang dialami gadis bangsawan ketika beranjak
dewasa seperti yang dialaminya, pelajaran yang didapatkan semakin matang. Ia semakin
kritis dan memikirkan nasib kaumnya yang lain, kaum perempuan. Selama 4 tahun
ia dipingit, ditemani surat-surat dari temen-temannya yang kemudian dibukukan
dan berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” dan buku-buku kiriman guru dan teman-temannya
. Ia Tidak diperbolehkan untuk melewati tembok gedung keasistenwedanaan,
rumahnya sendiri karena memang itulah adat jawa yang diberikan kepada bangsawan
perempuan.

Ketika berusia 16 tahun, pingitannya telah selesai. Hari masih pagi
kala itu, dan di pagi itulah untuk pertama kali Kartini melihat dunia luar.
Pada hari itu mereka menghadiri pentahbisan gereja baru.Dan mungkin Karena kunjungan
itulah Kartini juga sangat menghormati kaum Nasani. Sebenarnya pembebasan itu
belum bersifat resmi, sekalipun orangtuanya sudah menolak kebiasaan memingit.
Mereka masih di tahan di rumah dan lambat laun lebih sering akhirnya mereka
bepergian.

Tidak lama dari pembebasan pingitan Kartini, Ia diperkenalkan
kepada Tuan dan Nyonya Ovink. Kedua
orang belanda ini sangat heran mendengar seorang perempuan jawa berbicara
bahasa jawa dengan lancer. Sementara ayahnya berbicara dengan Tuan Asisten
Residen Ovink, Nyonya ovink mengajukan pertanyaan pada Kartini dan kedua
adiknya. Baru pertama kali ia mempergunakan bahasnya dengan perempuan pribumi.
Karena kelancaran bicara dan kecedasan Kartini, ia sering diundang untuk
bercakap-cakap di rumah keluarga Ovink.

“Mereka semua tidak bersekolah ,Nyonya . Alangkah baik jika dibuka
sewaktu waktu dibuka sekolah untuk mereka.” Seraya Kartini menunjuk ke arah
beberapa perempuan yang berdiri di pinggir jalan.

“Bukankah mereka semua berbahagia? Lihat saja bagaimana mereka
tertawa.” Nyonya itu mencoba menjawab.

“Berbahagia? Saya banyak sekali mendengar tentang kehidupan mereka.
Menyedihkan sekali. Karena mereka tidak disekolahkan. Jika mereka diberi
kesempatan untuk bersekolah, keadaan tentu lain.” Jawab Kartini menanggapi.

Hal kritis seperti itu pun penah juga diungkapkan Kartini ketika mlihat
kerajinan jepara bersama nyonya Ovink. “ Lihatlah perempuan-perempuan itu
Nyonya, mereka buta huruf dan kurang gizi. Padahal kerajinan yang dibuat oleh
putra-putra dan suami mereka sangat indah. Saying sekali bukan?”

Nyonya Oving pun memperhatikan perempuan-perempuan yang memakai kutang
kusam dan kulit hitam legam kasar, perempuan-perempuan yang sedang meneteki
anaknya sembari menyembah. Iapun menceritakan apa yang Kartini katakana kepada
suaminya. “Bangsa ini akan segera mempunyai pahlawan perempuan, semoga ia
dikaruniai hidup panjang.” Kata Tuan Ovink sembari tersenyum.

Sungguh seorang Raden Ajeng yang kritis dan memerhatikan lingkungan
sekitar. walau baru saja menapaki dunia di luar tembok keasistenwidenaan.
Kritis dan peduli pada perempuan di daerahnya yang dikekang adat.
Perempuan-perempuan jawa yang  tidak
diperbolehkan untuk cerdas, menahan kelakuannya agar terlihat pendiam.

Mengapa perempuan terus yang diperhatikan Kartini? Mengapa ia tidak
terlalu konsen akan nasib laki-laki di daerahnya? Karena perempuan jawa adalah
kelas dua dalam keluarga. Anggota keluarga yang berjenis kelamin laki-laki
harus makan kenyang terlebih dahulu baru perempuannya. Anak laki-laki bengsawan
disekolahkan, sedang anak perempuannya di rumah saja. Hanya beberapa perempuan
bangsawan seperti Raden Ayu di keluarga Kartini saja yang berkesempatan mengikuti
pelajaran di sekolah walaupun pada usia 12 tahun mereka harus dipingit.

Kartini berpikir jika perempuan mendapat pendidikan, maka setiap
keluarga akan lebih terjaga kesehatannya. Karena perempuanlah yang mengatur
kesehatan keluarga, yang mengurus anak, yang memasak, da mengurus rumah. Jika
keluarga sehat, maka keluarga akan lebih
sejahtera. Ini menarik, Kartini adalah Keluarga bangsawan, seorang perempuan,
yang juga dibebani adat, perempuan di zamannya yang berpikir kritis, peduli,
memikirkan sekitar, dan terus mencoba untuk memajukan kaumnya yang terbelakang,
yang juga mengurangi kesulitan tiap keluarga di daerahnya.

Tidak hanya sebatas kata dan surat saja yang ia persembahkan untuk
kaumnya, tapi juga sekolah perempuan yang awalnya sederhana hingga menjadi
besar dan banyak perempuan yang mengikutinya. Dari perempuan abdi keasistenwidenaan
dengan sekolah berbetuk pendopo di belakang keasistenwidenaan hingga gedung
yang diberikan pemerintah Hindia Belanda.

Sebuah persembahan yang diberikan oleh Kartini untuk kaumnya, bahwa
perempuan juga berhak mendapatkan pendidikan. Hal besar yang berawal dari
pertanyaan Kartini ketika kecil, “Yah, Kartini akan menjadi apa?” Yang mungkin
dapat kita jawab sekarang, “ Ibu, Kau sudah menjadi contoh yang besar bagiku. Kau
telah menjadi guru yang mengajarkan bahwa kami,perempuan, berhak belajar, bahwa
kami berhak mewudkan apa yang kami cita-citakan , bahwa kami juga berhak
menjadi pahlawan sepertimu, walau nama kami bukan Kartini. Walau kami bukan
Perempuan yang mempunyai nama Raden Ayu sepertimu.”

 

BAGAIMANA PELAJAR INDONESIA SEHARUSNYA BERSIKAP

Thursday, April 12th, 2007

Ada
hal yang ingin saya tanyakan, bagaimana kita mulai menyelesaikan masalah yang
ada ini? Siapakah yang seharusnya memulai gerakan untuk melakukan perbaikan
ini?

 Setiap orang dalam bangsa ini mempunya
tugasya masing-masing dalam menyelesaikan masalah yang ada. Setiap anak kecil,
mempunyai tugas untuk belajar, setiap pendidik, mempunyai tugas untuk mendidik,
setiap orangtua mempunyai tugas dalam membentuk karaker dan membuka pikiran
setiap calon pemimpin yang diasuhnya.

Begitu
juga pelajar, yang sejak dulu telah kita ketahui berperan besar dalam
pembentukan bangsa Indonesia. Saya kira bukan hanya belajar pelajaran akademis
saja yang yang menjadi tugas utama seorang pelajar. Sebagai orang yang dapat
dikatakan terididik, kita seharusnya juga bertanggung jawab dalam memikirkan
langkah menyelesaikan masalah Negara ini. Bukan hanya pelajar dapat dikatakan
sebagai calon pemimpin di masa mendatang, tapi juga agar pelajar tidak
kehilangan tujuan belajar yang seharusnya telah ditanamkan sejak kecil. Bukan
hanya untuk bertahan hidup, aktifitas pendidikan seharusnya bertujuan untuk
pembangunan bangsa. 

Mahasiswa,
sebagai pelajar yang sudah dapat dikatakan
dewasa, seharusnya sudah mengerti dan tahu peranan masing-masing dalam
pembangunan bangsa. Yang ingin menjadi teknokrat misalnya, persiapkan diri
untuk membangun teknologi bangsa, yang menjadi seorang economist, persiapkan diri untuk mengatur keuangan Negara. Yang
ingin menjadi pegawai, tidak salah menjadi pegawai cukup belajar yang rajin
saja, karena ada orang yang akan mengatur seorang pegawai dan pegawai pun
mempunyai peran yang sangat penting dalam membangun prekonomian banga.

 Mahasiswa yang mempunyai tujuan
membangun bangsa, akan sangat kurang jiga tgasnya adalah belajar pelajaran
akademis saja. Mahasiswa harus membuka matanya akan apa yang terjadi, apa
permasalahan, apa akar permasalahan, apa yang seharusnya dilakukan, apa goal
yang harusnya dicapai. Hal-hal seperti itu akan sangat kurang jika hanya
belajar di kelas saja. Mahasiswa seharusnya turun langsung dalam mengawal
pembangunan bangsa. Dan akan lebih baik, jika mahasiswa mempunyai langkah
taktis yang dapat dilakukan oleh kaumnya. 

 Ada beberapa hal yang saya kira dapat
dilakukan mahasiswa untuk mengawal dan membentu pembangunan bangsa. Selain
melakukan pengajian  bagaimana langkah
penyelesain masalah dan tidak buta politik ,karena sangat jelas pembangunan
bangsa tidak lepas dalam masalah politik juga, mahasiswa juga dapat melakukan
langkah taktis. Seperti melakukan penelitian tentang energi agar masalah tidak
tercukupinya energi tidak ada lagi dalam bangsa ini di masa mendatang, atau
bahkan mengusahakan agar setiap peneliti muda Indonesia, terutama mahasiswa,
dapat melakukan penelitiannya. Dapat juga Terjun dan berktifitas di lapangan
seperti demonstrasi, setelah melakukan pengajian akan penyelesain masalah
tentunya. Atau juga bekerja sama dengan LSM untuk memajukan pendidikan dengan
menjadi guru relawan atau menanggulangi masalah lingkungan. Mengurangi
pengangguran dengan menjadi pengusaha dan membuat lahan pekerjaan, memajukan
pertanian dengan survey ke lapangan , penelitian dan melakukan penyuluhan, dan
banyak hal lain yang dapat kita lakukan.

 Hal_hal seperti itu tidak hanya
membantu Negara, tetapi juga menjadi bahan simulasi yang baik ketika kita telah
menyelesaikan pendidikan dan bertangung jawab dalam mengatur bangsa ini menjadi
tugas utama kita. Semakin baik jika mahasiswa tidak hanya belajar simulasi
lapangan, tetapi juga belajar simulasi pemerintahan dengan berorganisasi.
Karana semua hal akan berkaitan dengan organisasi jika ingin terorganisir
dengan baik dan matang.

 Dengan berorganisasi, mahasiswa akan
semakin matang dalam hal karakter ataupun menentukan peran dalam pembangunan
sesuai kemampuan dan kelebihannya. Dengan berorganisasi, mahasiswa dapat
mempunyai jaringan yang luas agar infomasi dan langkah kedepan yang diambil ke
depan akan semakin mudah. Dengan berorganisasi juga, kita dapat mempunyai
gambaran yang lebih jelas tentang permasalahan politik yang ada. Kita juga
belajar tentang simulasi perpolitikan, karena pembangunan jelas tidak luput
dalam masalah politik. 

PERSOALAN YANG DIALAMI BANGSA INDONESIA

Thursday, April 12th, 2007

Persoalan
bangsa saat ini saya nilai cukup banyak. Dari masalah ketahanan pangan, penanganan
bencana yang seharusnya ditangani dengan tepat dan cepat,  pengangguran akibat kurangnya lahan pekerjaan
dan kualitas manusianya, pendidikan yang seharusnya menjadi dasar dalam
pembangunan bangsa namun tidak terorganisir dengan baik, penanganan
transportasi yang baru disadari ternyata banyak masalah setelah terjadinya
kecelakaan beruntun baik darat, laut dan udara yang terjadi belakangan ini. Ada
juga masalah korupsi yang sudah tidak lagi asing di dengar, krisis kepemimpinan
yang saya nilai sebagai salah satu akar permasalahan ditambah bertambahnya
terus penduduk yang menyebabkan negarasemakin sulit mengurus rakyatnya.

Dengan
adanya globalisasi, Indonesia dituntut untuk melakukan akselerasi dalam penangan berbagai masalah tersebut. Jelas
sudah kita memerlukan koordinasi yang baik dalam menyelesaikan masalah dan
mencari akar permasalahan yang ada. Apakah Negara memang tidak sanggup mengurus
rakyat Indonesia yang tersebar dibatasi laut dengan beragam kebudayaan dan
karakter? Apakah memang kita belum lagi menemukan pemimpin kuat, dengan segala
kemampuannya dalam memanage Negara
Indonesia? terlalu banyak yang diurus atau memang tidak bisa menguruskah akar
permasalahannya?

Jika
saya mengatakan bahwa kita terlalu banyak orang yang diurus sehingga pemeritah
kewalahan, maka pemecahan masalah yang dapat diajukan adalah penurunan tingkat
kelahiran dengan program KB, pendidikan di tempat-tempat terpencil sehingga
orang semakin sadar akan masalah yang ada. Namun, ada pertanyaan lagi dalam
benak saya “mengapa pemerintah Cina dapat Mengurus rakyatnya dengan baik dan cepat
menangani masalah negaranya dengan cepat?” Cina juga Negara dengan penduduk
yang banyak, bahkan lebih banyak dari Indonesia. Hal tersebut saya lihat karena
pemerintah cina saya nilai sangat kuat, tidak hanya itu, hukum yang berlaku
juga sangat tegas mengikat. Cina mempunyai pemimpin yang disegani oleh
rakyatnya, sedangkan kepemimpinan pemimpin kita kerap kali dipertanyakan.

Menurut
saya, kedua-duanya adalah akar permasalahan yang harus diselesaikan jika kita berbicara tentang akselerasi
penyelesian masalah. Cina, hampir saya bilang telah stabil dan sudah
menyelesaikan akar masalahnya. Sedangkan kita, mempunyai masalah baru setiap
waktu. Wajar jika tidak hanya masalah krisis kepemimpinan saja yang kita
perhatikan, tetapi masalah banyaknya orang yang dapat Negara kita ururs dalam
waktu cepat untuk mengahasilkan sumber daya manusia yang berkualitas juga tidak
bisa tidak kita perhatikan.