cerita harian
Yah… dunia baruku seperti yang kau ceritakan dulu
Berbicara puas sambil merokok tak kenal waktu
Kita tetap sama, suka mendengarkan lagu jenis yang sama
Ada kopi tentu walau tak seenak buatanmu
Rencana perbaikan dan mimpi-mimpi idealisme topik hangatnya tentu
Yah… Kita tetap seorang realist yang memimpikan iedealisme
Mimpi-mimpi itu tidak kosong, tak pernah terisi hanya harap
Tujuan kita tetap di depan bukan?
Ingin ku mempersembahkan sesuatu namun ku menunggu
Perbedaan sahabt setia yang terkadang menjadi rival
Yah…. mengetahui suatu hal terkadang tak seenak dulu
Saat mataku kabur dan ada yang menuntun
Ada saatnya tidak berpikir banyak hal jauh tidak enak dari tidak berpikir apapun walau aku tak bisa hidup tanpa berpikir
Ingin ku percaya lagi pada sebuah khayalan, menyenangkan namun tidak ada
Yah…. Mimpiku ada 1 orang lagi yang tahu
Seorang guru, sama kapitalisnya denganmu, dengan mimpi yang sama besar denganku
Namun dia guru, kau tau aku tak suka digurui
Pecinta kopi dan rokok, nafas berdiskusi
Yah.. haruskah topeng dari ibu kupakai lagi?
Topeng yang membuatku tetap bergerak dan tak terlihat?
Aku gerah…. Belum pernah kulepas setiap mimiknya kecuali di depanmu
Yang kucoba buka pelan2 berani menerima penolakan
Yah…. Kau tahu aku tak pernah bimbang dalam mimpiku
Mataku tetap di depan, mencoba membuka mata si depan silaunya dunia
Atau berjalan meraba di gelap tanpa ada yang teraba
Namun diam saat ku bimbang dalam kehampaan relita
Yah…. Ruangan ini sesempit ruanganmu dulu
Berantakan walau baru dirapihkan
Abu rokok, selebaran kertas berisi pemikiran bertebaran
Terlihat kumal, tapi mimpi kami bersih
Tampaknya diskusi di sini masih panjang, harus rasanya ku beli kopi lagi dan kuhentikan tulisan ini
19 November 2005