PAWANG BUAYAWATI

July 29th, 2007 by isaac-apple

Udah lama gw pengen nulis ini. Wel… agak aneh juga gw mulai untuk in relationship, masih ada yang bertanya-tanya? tanyalah, dan jawab sendiri mengapa, mungkin gw lebih butuh jawaban kalian daripada  pertanyaan kalian yang isinya kenapa gw mulai memilih in relationship..
Untuk mencari tumbalkah?
atau kamuflasekah?

Saat gossip yang bukan hanya gossip itu menyebar (gossip gw in relationship), teman2 gw malah bertanya, "sama yang mana?"
Atau "hah, sama yang itu? bukannya lo kemarin dianterin pulang sama A***** ?
Atau, " Hah, eta co kemaren bukan co na?"
malah ada yang mengajak gw gabung ke dalam komunitas buayawati.
Btw… LPP juga komunitas buaya wati loh, walau banyak yang sudah punya pawang..

Pawang? apakah definisi pawang adalah penjinak?
Kalau itu definisinya, mungkin, buayawati yang satu ini gak akan punya pawang dalam ranah cinta-cintaan. (halah basanya mulai nyampah)..
kasian pawangnya diterkam mulu, mana pawangnya canggungan lagi, mangsa empuk nih…
tapi dalam urusan yang lain, bolehlah…

Pawang gw yang satu ini cukup ampuh untuk menurunkan sedikit ego gw, buktinya adalah gw mau nerima dia yang baru dekat beberapa mingu ajah.
Mungkin juga pawang gw juga seorang kadal, jadi berasa enak aja kalau bermain-main dengan sesama makhluk liar.
Hohohoho….

Gw mau cerita dulu tentang kisah si buaya dengan pawangnya…

Pawang buaya yang satu ini mungkin juga bukan yang terbaik diantara yang lainnya, tapi si buaya tertarik dengan kecanggungannya yang alami, dan semua kesederhanaan yang ada dari calon pawang yang baru saja mengajukan lamaran untuk berprofesi sebagai pawang buaya.
Awalnya dia berpikir untuk menjadikan laki-laki itu mangsa empuk.
Namun, ketika si buaya terluka, laki-laki itu berusaha menyembuhkan lukanya, menyuapi makanan ke mulut si buaya yang mungkin saja bisa langsung melahap tangannya.
Si buaya berpikir, jika aku besok sembuh, aku akan makan kenyang, makan anak manusia yang canggung dan malu-malu itu…
dia terus berpikir seperti itu, hingga akhirnya ia sembuh…
saat sembuh, si buaya malah ingin sakit selamanya, sehingga laki-laki itu ada di sampingnya.
karena dia berpikir, jika ia sehat, ia akan melukai laki-laki itu….
Si buaya takut sekali bila melihat laki-laki itu sakit karenanya, tapi dia ingin tetap ada di sampingnya…

Akhirnya, si buaya betina angkuh, sok, dan keas kepala dan jago memanipulasi kondisi ini (entah bagaimana caranya buaya bisa negosiasi dan mengatur situasi), mengatur rencana untuk menjadikan laki-laki itu menjadi pawang buaya.
si buaya tahu, laki-laki itu pasti akan menjadi pawang buaya untuknya, namun, itu hanya soal waktu.
untuk buaya, waktulah yang menjadi soal,
Dekat dengannya tanpa statusnya yang bukan pawangnya, akan menyalakan insting kebuayawatiannya dan memakan laki-laki itu bulat2.
Dan si buaya takut akan hal itu (halah, ini buaya cukup plin-plan apa kepribadian ganda yak ?)

tanpa di duga si buaya, laki-laki itu melamar menjadi pawang buaya di kandangnya yang hanya berisi 1 buayawati, buaya itu sendiri
Buaya itu cukup kaget dan senang, karena menurut perkiraannya, laki-laki itu akan menjadi pawangnnya sekitar 1 atau 2 minggu lagi.
Cerita berakhir sampai dengan hari-hari menyenangkan si buaya dengan pawangnya, yang mungkin saja bisa jadi mangsa empuknya jika dia hilaf….

….its happy ending isn` it?..

yah, itulah fabel gw tentang buayawati dan pawangnya, Kayak cerita klasik Russia "Anak Kuda Bungkuk" yah?
Mungkin saja ini jadi jawaban kenapa gw memilih in relationship, dan semoga dapat menjadi inspirasi buayawati lain…

Ps: buayawati terlahir sebagai buayawati….

Ada pesan juga dari temen gw yang baca tulisan ini sebelum gw post di blog gw :
" NYAMPAH LO DIF, TULISANLO YANG PALING GAK JELAS YANG GW BACA"

PERTEMUAN MAHASISWA YANG ANEH

July 29th, 2007 by isaac-apple

Saya
baru menyadari akhir-akhir ini pelajar
Indonesia, khususnya mahasiswa yang aku temuain di pertemuan BEM di Bandung yang
sedang membahas isu Pilkada ini punya pikiran
dangkal yang mau buru-buru aja. Masih aneh aja kalo ada negara yang punya
kualikasi pendidikan untuk menyeleksi calon pemimpinnya. Semua negara maju gak
akan pernah lagi membatasi calon pemimpinya dengan batas akademis formal yang
sbenarnya bukan melanggar hak asasi saja, tapi juga
merugikan bangsa itu juga.

Di
pertemuan BEM bandung ini, kita sedang membahas tentang pemimpin ideal yang
akan kita ungkapkan ke masyarakat. Beberapa syarat yang telah kita bahas dan
sepakati adalah :

1. Pemimpin
tersebut tidak pernah dan tidak akan pernah terkena “kasus”

(entah gimana caranya mahasiswa jadi peramal, sedangkan jurusan yang tersedia
adalah astronomi dan bukan astrologi),

2. Bertakwa
terhadap tuhan yang maha esa
(well,,, bererti orang atheis
gak akan pernah jadi presiden, udah melaggar hak juga gak sih? )

3. (Sumpah, ini yang sebenarnya saya
tentang tapi mau gak mau saya sepakatin Cuma gara-gara saya yakin walau argumen
saya yang paling logis tapi mereka gak akan sepakat entah kenapa… apakah karena
mereka memang belum siap dengan kelogisan macam itu atau karena pembahasan
mereka tentang materi memang belum cukup) Calon pikada minimal berijazah S1. (bayangkan,
mereka tadinya sepakat bahwa calon pilkada minimal berijazah S2, wah, menurut
saya itu semakin menutup peluang kemungkinanan manusia-manusia berkualitas. karena
sudah yakin dengan karakter peserta sidang yang saya lihat pasti menolak, saya
langsung ganti mengusulkan bagaimana jika S1 saja. Dengan argument ada
kemungkian kita merusak keidealan calon pemimpin kita sendiri dengan pembatasan
akademis yang menurut saya aneh ini)

4. Abis itu saya lupa……

Itulah
anehnya, kita yang ada di pembahasan Pilkada Bandung ini kan akan mengampanyekan calon
pemimpin ideal yang telah kita sepakati ini, tapi menurut saya, dengan
memberikan batas akademis, kita tidak mengkampanyekan pencalonan yang ideal.
Seharusnya mahasiswa dapat memberikan contoh sesuatu yang tidak melanggar HAM, supaya
,masyarakat dapat belajar untuk mengenal hukum yang berdasarkan HAM. Dengan memberikanpembatasan ini, dengan alas
an kita juga bisa dapat mengkampanyekan tentang pentingnya pendidikan
(sepertinya tidak perlu begini juga caranya mengkampanyekan pentingnya
pendidikan, ada banyak cara dong… ini malah seperti mengkampanyekan ‘lupakan
saja HAM, kita cari pemimpin berkualitas sesuai dengan akademisny’, yang menurut
saya belum tentu bisa didapat dengan pembatasan akademis karena pemimpin itu
tidak hanya berteori duduk di bangki kuliah. Pemimipin itu kerja praktek,
melatih sensibilitas, kemampuan menyelesaikan masalah, menghaddapi masyarakat,
dan semua itu dapat dilatih dengan berorgnisasi. )

Sepertinya kita
inilah yang membuat masyarakat mencari pemimpin yang tidak ideal dengan cara
yang tidak ideal. Membuat masyarakat melihat sebelahmata dengan melihat mana
calonnya yang berpendidikan tinggi saja. Bukan programnya. Membuat masyarakat
lupa tentang pentingnya HAM yang seharusnya dapat kita, mahasisw, contohkan
karena mahasiswa biasanya mendapatkan informasi terntang apapun lebih mudah.

PELACUR-PELACUR POLITIK

July 12th, 2007 by isaac-apple

Gw lagi baca buku dari seorang yang  menyenangkan  dan ternyata sangat mengenal dan menerima gw. Seorang yang melihat DIFA sebagai DIFA dan DIVA sebagai DIVA, Andaikan ya Ndra…..

Sebuah buku karya Paul I. Wellman, "The Female".
Tentang seorang pelacur yang bangkit dari keaiban dunia mesum untuk meraih kemulian sebagai MAHARANI yang memerintah seluruh dunia ROMAWI pada abad ke 6…

Theodora…
Penjelmaan seluruh pesona dan kelicikan perempuan yang kebutuhannya tak bisa dipenuhi oleh adam manapun. Makhluk indah yang mengalir tanggung jawab seks yang penuh rahasia mengerikan. pribadi yang sangat subjektif dalam pikiran dan perasaan, sadar akan kelemahan, tak tergoyah dalam keputusannya, tak berkasih dalam realismenya. Perempuan yang kenal tujuan dengan keambisiusan yang cerdas dan menggoda, melihat semua pelajaran dengan mata tajam yang membius politikus konstantinopel sehingga mereka bak anjing sang maharani dari jalan hawa -sarang pelacuran yang paling terkenal dan terbusuk di dunia- sampai akhirnya menaklukkan suatu bangsa, ROMAWI…   

Kecerdasan yang hanya bisa didapatkan oleh seorang pelacur yang terbiasa menyeleksi ‘permainannya’ yang tidak munafik seperti gadis-gadis bangsawan yang polos dan hanya tau bahwa hidupnya untuk menyenangkan sang suami yang harus dia agungkan, bukan untuk menyenangkan hidup mereka sendiri. Mereka tidak ditiduri, tapi meniduri pria-pria itu dalam buaian mereka. Pelacur- pelacur politik yang meniduri tiap kekuasaan dan rahasia-rahasia mahal yang hanya diketahui oleh segelintir saja orang-orang terpilih.

 

Inspired huh?
pelacur-pelacur politik inilah pemegang kekuasaan sebenarnya. Dan pelacur yang tertulis tidak hanya dapat diartikan dalam maksud yang sebenarnya.
Mungkin, kita semua adalah pelacur-pelacur demokrasi….
Mungkin, kita semua adalah pelacur-pelacur hukum….
Mungkin, kita semua adalah pelacur-pelacur sejarah….
Bukan hanya sampah ranjang saja….

mengAKU

April 28th, 2007 by isaac-apple

        Menurut KTP, subjek aku yang akan
dideskripsikan di sini bernama Difa Kusumadiani, berjenis kelamin perempuan, belum
menikah, lahir pada tanggal 22 september 1987 di daerah Bekasi, bertempat
tinggal di bla bla bla, bergolongan darah AB, dan seterusnya. Selain itu “Aku” juga
dideskripsikan sebagai anak pertama dari 6 bersaudara, dari orang tua yang
melahirkan, membesarkan, dan memberikan pelajaran terbesar, pelajaran untuk
bertanya. Menpunyai  genetik seperti bla
bla bla yang membentuk ”Aku” dan dapat dikatakan sebagai homo sapiens. Yang
dituntut untuk bisa mendefinisikan “Aku” dari genetiknya. Yang mempunyi sejarah
dalam lama hidupnya, yang melihat sejarah di sekitarnya dan membentuk
ke”Aku”annya.

 

 Seorang
“Aku” adalah manusia yang juga dapat menilai dirinya. “Aku” menilai dirinya
sebagai orang yang ambisius, keras kepala, narsisist, keibuan, dan segala sifat
yang ada pada diri “Aku” yang akan terlalu banyak dan membuat essai ini semakin
kehilangan inti. Itulah nilai yang diberikan “Aku” pada dirinya. Mungkin saja
berbeda dari penilaian dari orang lain. Mungkin saja penilaian itu dibentuk
dari orang lain.

 

 Namun,
bisakah seorang “Aku” mendefinisikan dirinya? Yang seorang “Aku” lihat dari
tulisannya dia atas hanyalah deskripsi, hanya penilaian, baik didasari oleh
fisik atau pemikiran ke”Aku”an dari “Aku”, itupun bisa didasari oleh ketahuan
dan ketidaktahuan dari “Aku” yang lain. Bukan definisi dari ke”Aku”annya.
Pertanyaan mendasar yang sering ditanyakan atau ditidakpedulikan oleh “Aku”
lainnya. Pertanyaan terdalam bagi “Aku” yang ingin tahu ke”Aku”annya seperti “Aku”.

 

 Aku
hanyalah meng”Aku” dan terus men”Aku” sampai “Aku” berhenti untuk meng”Aku”.
“Aku” menjadi “Aku” ketika nafas, pikiran, detak, sel-selnya tidak meng”Aku”
lagi. Ketika nafas ini berhenti selamanya, ketika seorang “Aku” tidak ada lagi,
tidak apa formula genetik bernama “Aku” lagi yang hidup. Seumur hidupku, “Aku”
tidak pernah menjadi “Aku”. Karena aku adalah “Aku” setelah mati ragaku.
Setelah raga tidak lagi membatasi ke”Aku”anku

 

 Jika
“Aku” terdiri dari air, tanah, udara, logam, dan apapun itu, semoga “Aku” nanti
adalah semua itu. Jika aku berada di kiri, kanan, depan, belakang, tengah,
atas, bawah , semoga “Aku” nanti adalah semua itu. Jika aku dikenal ataupun
menilai diri sebagai orang yang ambisius, narsisist, kapitalis, Marxis,
idealis, koleris, taktis, pragmatis, theis, bahkan atheis, atau sifat-sifat
lain yang aku tidak tahu definisinya, semoga “Aku” nanti adalah semua itu.
Nilailah aku dari pemikiranku, jangan dari fisikku yang membatasi ke”Aku”anku,
definisikan aku dalam pikiranmu, namun aku akan terus meng “Aku”. Karena “Aku”
berharap menjadi “Kamu”, “Kalian” , “Mereka”, “Kita”, menjadi “Aku” yang
berhenti meng”aku”. Ketika tidak dapat lagi meng”Aku”.

 

  Aku ingin lebih meng”Aku”
lebih kuat, lebih bebas, dan lebih jelas lagi. Pikiranku tantang ke”Aku”an ini
terlalu terhambat oleh kata, suara waktu, dan ruang sedang dijalani dalam
ke”Aku”an. Aku ingin ke”Aku”an ini tidak hanya untukku, tapi juga untuk “Aku”
yang lain yang juga akan menjadi “Aku”, “Kamu”. “Dia”, “Kami”, “Mereka”, “Kita”.
Seperti “Aku” ketika berhenti meng”Aku”.

Ayah,Kartini akan menjadi apa?

April 23rd, 2007 by isaac-apple

“Ayah, Kartini
kelak akan jadi apa yah?” tanya Kartini sepulangnya dari sekolah.

 Orang tua itu terkejut dengan
pertanyaan putrinya. Ia tidak menjawab. Memang ia tidak mau menjawabnya. Anak
yang dicintainya itu tentu tidak akan mengerti. Jawabnya hanya sebuah
senyuman,sementara tangannya terus mengusap-usap kepala anaknya. Kartini
bertanya lagi, dan ayahnya hanya bisa tersenyum mendengar puri kecilnya
menanyakan hal itu

 Jika seorang Kartini tidak
pernah sekalipun dalam benaknya menanyakan hal itu, Ia mungkin hanya akan
menjadi Raden Ayu. Hanya menjadi istri seorang bangsawan seperti ibu-ibunya.
Menjadi seorang raden ayu yang anggun, dengan langkah hampir tidak bersuara dan
suara yang hampir tidak terdengar jika berbicara. Siapapun dapat menjadi aden
ayu, tapi siapapun belum tentu bisa menjadi seorang Kartini yang kritis dalam
kerangkeng adat yang juga sangat dia cintai.

 Kartini lahir ketika marak
pencabutan tanam paksa. Ayahnya adalah R. M. A. Sosroningrat, seorang bupati
jepara dan ibunya bernama Ngasirah, anak dari mandor pabrik gula mojang.  Ayah Kartini adalah bangsawan yang mendapat
pendidikan Barat. Karena kakek Kartini , Pangeran Ario Tjondronegoro dari
Demak, adalah bupati pertama di Jawa tengah yang memberikan putra-putranya
didikan barat agar putra-putranya agar mendapatkan kemajuan dalam pendidikan.
Ayah Kartini pun mengikuti jejak ayahnya dengan memberikan putra-putrinya
pendidikan.

 “Tidak, ayah tidak jahat,” kata Kartini
kepada adiknya. “Ayah baik. Ayah sudah menyekolahkan kita. Padahal jarang anak
perempuan ke sekolah jaman sekarang. Ayah baik. Betul-betul baik. Hanya adat
yang kurang baik. Adatlah yang memaksa saya berhenti sekolah.” 

Pendidikan resminya hanya sebentar. Ia dipingit ketika berusian 12
tahun. Namun karena pingitan yang dialami gadis bangsawan ketika beranjak
dewasa seperti yang dialaminya, pelajaran yang didapatkan semakin matang. Ia semakin
kritis dan memikirkan nasib kaumnya yang lain, kaum perempuan. Selama 4 tahun
ia dipingit, ditemani surat-surat dari temen-temannya yang kemudian dibukukan
dan berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” dan buku-buku kiriman guru dan teman-temannya
. Ia Tidak diperbolehkan untuk melewati tembok gedung keasistenwedanaan,
rumahnya sendiri karena memang itulah adat jawa yang diberikan kepada bangsawan
perempuan.

Ketika berusia 16 tahun, pingitannya telah selesai. Hari masih pagi
kala itu, dan di pagi itulah untuk pertama kali Kartini melihat dunia luar.
Pada hari itu mereka menghadiri pentahbisan gereja baru.Dan mungkin Karena kunjungan
itulah Kartini juga sangat menghormati kaum Nasani. Sebenarnya pembebasan itu
belum bersifat resmi, sekalipun orangtuanya sudah menolak kebiasaan memingit.
Mereka masih di tahan di rumah dan lambat laun lebih sering akhirnya mereka
bepergian.

Tidak lama dari pembebasan pingitan Kartini, Ia diperkenalkan
kepada Tuan dan Nyonya Ovink. Kedua
orang belanda ini sangat heran mendengar seorang perempuan jawa berbicara
bahasa jawa dengan lancer. Sementara ayahnya berbicara dengan Tuan Asisten
Residen Ovink, Nyonya ovink mengajukan pertanyaan pada Kartini dan kedua
adiknya. Baru pertama kali ia mempergunakan bahasnya dengan perempuan pribumi.
Karena kelancaran bicara dan kecedasan Kartini, ia sering diundang untuk
bercakap-cakap di rumah keluarga Ovink.

“Mereka semua tidak bersekolah ,Nyonya . Alangkah baik jika dibuka
sewaktu waktu dibuka sekolah untuk mereka.” Seraya Kartini menunjuk ke arah
beberapa perempuan yang berdiri di pinggir jalan.

“Bukankah mereka semua berbahagia? Lihat saja bagaimana mereka
tertawa.” Nyonya itu mencoba menjawab.

“Berbahagia? Saya banyak sekali mendengar tentang kehidupan mereka.
Menyedihkan sekali. Karena mereka tidak disekolahkan. Jika mereka diberi
kesempatan untuk bersekolah, keadaan tentu lain.” Jawab Kartini menanggapi.

Hal kritis seperti itu pun penah juga diungkapkan Kartini ketika mlihat
kerajinan jepara bersama nyonya Ovink. “ Lihatlah perempuan-perempuan itu
Nyonya, mereka buta huruf dan kurang gizi. Padahal kerajinan yang dibuat oleh
putra-putra dan suami mereka sangat indah. Saying sekali bukan?”

Nyonya Oving pun memperhatikan perempuan-perempuan yang memakai kutang
kusam dan kulit hitam legam kasar, perempuan-perempuan yang sedang meneteki
anaknya sembari menyembah. Iapun menceritakan apa yang Kartini katakana kepada
suaminya. “Bangsa ini akan segera mempunyai pahlawan perempuan, semoga ia
dikaruniai hidup panjang.” Kata Tuan Ovink sembari tersenyum.

Sungguh seorang Raden Ajeng yang kritis dan memerhatikan lingkungan
sekitar. walau baru saja menapaki dunia di luar tembok keasistenwidenaan.
Kritis dan peduli pada perempuan di daerahnya yang dikekang adat.
Perempuan-perempuan jawa yang  tidak
diperbolehkan untuk cerdas, menahan kelakuannya agar terlihat pendiam.

Mengapa perempuan terus yang diperhatikan Kartini? Mengapa ia tidak
terlalu konsen akan nasib laki-laki di daerahnya? Karena perempuan jawa adalah
kelas dua dalam keluarga. Anggota keluarga yang berjenis kelamin laki-laki
harus makan kenyang terlebih dahulu baru perempuannya. Anak laki-laki bengsawan
disekolahkan, sedang anak perempuannya di rumah saja. Hanya beberapa perempuan
bangsawan seperti Raden Ayu di keluarga Kartini saja yang berkesempatan mengikuti
pelajaran di sekolah walaupun pada usia 12 tahun mereka harus dipingit.

Kartini berpikir jika perempuan mendapat pendidikan, maka setiap
keluarga akan lebih terjaga kesehatannya. Karena perempuanlah yang mengatur
kesehatan keluarga, yang mengurus anak, yang memasak, da mengurus rumah. Jika
keluarga sehat, maka keluarga akan lebih
sejahtera. Ini menarik, Kartini adalah Keluarga bangsawan, seorang perempuan,
yang juga dibebani adat, perempuan di zamannya yang berpikir kritis, peduli,
memikirkan sekitar, dan terus mencoba untuk memajukan kaumnya yang terbelakang,
yang juga mengurangi kesulitan tiap keluarga di daerahnya.

Tidak hanya sebatas kata dan surat saja yang ia persembahkan untuk
kaumnya, tapi juga sekolah perempuan yang awalnya sederhana hingga menjadi
besar dan banyak perempuan yang mengikutinya. Dari perempuan abdi keasistenwidenaan
dengan sekolah berbetuk pendopo di belakang keasistenwidenaan hingga gedung
yang diberikan pemerintah Hindia Belanda.

Sebuah persembahan yang diberikan oleh Kartini untuk kaumnya, bahwa
perempuan juga berhak mendapatkan pendidikan. Hal besar yang berawal dari
pertanyaan Kartini ketika kecil, “Yah, Kartini akan menjadi apa?” Yang mungkin
dapat kita jawab sekarang, “ Ibu, Kau sudah menjadi contoh yang besar bagiku. Kau
telah menjadi guru yang mengajarkan bahwa kami,perempuan, berhak belajar, bahwa
kami berhak mewudkan apa yang kami cita-citakan , bahwa kami juga berhak
menjadi pahlawan sepertimu, walau nama kami bukan Kartini. Walau kami bukan
Perempuan yang mempunyai nama Raden Ayu sepertimu.”

 

BAGAIMANA PELAJAR INDONESIA SEHARUSNYA BERSIKAP

April 12th, 2007 by isaac-apple

Ada
hal yang ingin saya tanyakan, bagaimana kita mulai menyelesaikan masalah yang
ada ini? Siapakah yang seharusnya memulai gerakan untuk melakukan perbaikan
ini?

 Setiap orang dalam bangsa ini mempunya
tugasya masing-masing dalam menyelesaikan masalah yang ada. Setiap anak kecil,
mempunyai tugas untuk belajar, setiap pendidik, mempunyai tugas untuk mendidik,
setiap orangtua mempunyai tugas dalam membentuk karaker dan membuka pikiran
setiap calon pemimpin yang diasuhnya.

Begitu
juga pelajar, yang sejak dulu telah kita ketahui berperan besar dalam
pembentukan bangsa Indonesia. Saya kira bukan hanya belajar pelajaran akademis
saja yang yang menjadi tugas utama seorang pelajar. Sebagai orang yang dapat
dikatakan terididik, kita seharusnya juga bertanggung jawab dalam memikirkan
langkah menyelesaikan masalah Negara ini. Bukan hanya pelajar dapat dikatakan
sebagai calon pemimpin di masa mendatang, tapi juga agar pelajar tidak
kehilangan tujuan belajar yang seharusnya telah ditanamkan sejak kecil. Bukan
hanya untuk bertahan hidup, aktifitas pendidikan seharusnya bertujuan untuk
pembangunan bangsa. 

Mahasiswa,
sebagai pelajar yang sudah dapat dikatakan
dewasa, seharusnya sudah mengerti dan tahu peranan masing-masing dalam
pembangunan bangsa. Yang ingin menjadi teknokrat misalnya, persiapkan diri
untuk membangun teknologi bangsa, yang menjadi seorang economist, persiapkan diri untuk mengatur keuangan Negara. Yang
ingin menjadi pegawai, tidak salah menjadi pegawai cukup belajar yang rajin
saja, karena ada orang yang akan mengatur seorang pegawai dan pegawai pun
mempunyai peran yang sangat penting dalam membangun prekonomian banga.

 Mahasiswa yang mempunyai tujuan
membangun bangsa, akan sangat kurang jiga tgasnya adalah belajar pelajaran
akademis saja. Mahasiswa harus membuka matanya akan apa yang terjadi, apa
permasalahan, apa akar permasalahan, apa yang seharusnya dilakukan, apa goal
yang harusnya dicapai. Hal-hal seperti itu akan sangat kurang jika hanya
belajar di kelas saja. Mahasiswa seharusnya turun langsung dalam mengawal
pembangunan bangsa. Dan akan lebih baik, jika mahasiswa mempunyai langkah
taktis yang dapat dilakukan oleh kaumnya. 

 Ada beberapa hal yang saya kira dapat
dilakukan mahasiswa untuk mengawal dan membentu pembangunan bangsa. Selain
melakukan pengajian  bagaimana langkah
penyelesain masalah dan tidak buta politik ,karena sangat jelas pembangunan
bangsa tidak lepas dalam masalah politik juga, mahasiswa juga dapat melakukan
langkah taktis. Seperti melakukan penelitian tentang energi agar masalah tidak
tercukupinya energi tidak ada lagi dalam bangsa ini di masa mendatang, atau
bahkan mengusahakan agar setiap peneliti muda Indonesia, terutama mahasiswa,
dapat melakukan penelitiannya. Dapat juga Terjun dan berktifitas di lapangan
seperti demonstrasi, setelah melakukan pengajian akan penyelesain masalah
tentunya. Atau juga bekerja sama dengan LSM untuk memajukan pendidikan dengan
menjadi guru relawan atau menanggulangi masalah lingkungan. Mengurangi
pengangguran dengan menjadi pengusaha dan membuat lahan pekerjaan, memajukan
pertanian dengan survey ke lapangan , penelitian dan melakukan penyuluhan, dan
banyak hal lain yang dapat kita lakukan.

 Hal_hal seperti itu tidak hanya
membantu Negara, tetapi juga menjadi bahan simulasi yang baik ketika kita telah
menyelesaikan pendidikan dan bertangung jawab dalam mengatur bangsa ini menjadi
tugas utama kita. Semakin baik jika mahasiswa tidak hanya belajar simulasi
lapangan, tetapi juga belajar simulasi pemerintahan dengan berorganisasi.
Karana semua hal akan berkaitan dengan organisasi jika ingin terorganisir
dengan baik dan matang.

 Dengan berorganisasi, mahasiswa akan
semakin matang dalam hal karakter ataupun menentukan peran dalam pembangunan
sesuai kemampuan dan kelebihannya. Dengan berorganisasi, mahasiswa dapat
mempunyai jaringan yang luas agar infomasi dan langkah kedepan yang diambil ke
depan akan semakin mudah. Dengan berorganisasi juga, kita dapat mempunyai
gambaran yang lebih jelas tentang permasalahan politik yang ada. Kita juga
belajar tentang simulasi perpolitikan, karena pembangunan jelas tidak luput
dalam masalah politik. 

PERSOALAN YANG DIALAMI BANGSA INDONESIA

April 12th, 2007 by isaac-apple

Persoalan
bangsa saat ini saya nilai cukup banyak. Dari masalah ketahanan pangan, penanganan
bencana yang seharusnya ditangani dengan tepat dan cepat,  pengangguran akibat kurangnya lahan pekerjaan
dan kualitas manusianya, pendidikan yang seharusnya menjadi dasar dalam
pembangunan bangsa namun tidak terorganisir dengan baik, penanganan
transportasi yang baru disadari ternyata banyak masalah setelah terjadinya
kecelakaan beruntun baik darat, laut dan udara yang terjadi belakangan ini. Ada
juga masalah korupsi yang sudah tidak lagi asing di dengar, krisis kepemimpinan
yang saya nilai sebagai salah satu akar permasalahan ditambah bertambahnya
terus penduduk yang menyebabkan negarasemakin sulit mengurus rakyatnya.

Dengan
adanya globalisasi, Indonesia dituntut untuk melakukan akselerasi dalam penangan berbagai masalah tersebut. Jelas
sudah kita memerlukan koordinasi yang baik dalam menyelesaikan masalah dan
mencari akar permasalahan yang ada. Apakah Negara memang tidak sanggup mengurus
rakyat Indonesia yang tersebar dibatasi laut dengan beragam kebudayaan dan
karakter? Apakah memang kita belum lagi menemukan pemimpin kuat, dengan segala
kemampuannya dalam memanage Negara
Indonesia? terlalu banyak yang diurus atau memang tidak bisa menguruskah akar
permasalahannya?

Jika
saya mengatakan bahwa kita terlalu banyak orang yang diurus sehingga pemeritah
kewalahan, maka pemecahan masalah yang dapat diajukan adalah penurunan tingkat
kelahiran dengan program KB, pendidikan di tempat-tempat terpencil sehingga
orang semakin sadar akan masalah yang ada. Namun, ada pertanyaan lagi dalam
benak saya “mengapa pemerintah Cina dapat Mengurus rakyatnya dengan baik dan cepat
menangani masalah negaranya dengan cepat?” Cina juga Negara dengan penduduk
yang banyak, bahkan lebih banyak dari Indonesia. Hal tersebut saya lihat karena
pemerintah cina saya nilai sangat kuat, tidak hanya itu, hukum yang berlaku
juga sangat tegas mengikat. Cina mempunyai pemimpin yang disegani oleh
rakyatnya, sedangkan kepemimpinan pemimpin kita kerap kali dipertanyakan.

Menurut
saya, kedua-duanya adalah akar permasalahan yang harus diselesaikan jika kita berbicara tentang akselerasi
penyelesian masalah. Cina, hampir saya bilang telah stabil dan sudah
menyelesaikan akar masalahnya. Sedangkan kita, mempunyai masalah baru setiap
waktu. Wajar jika tidak hanya masalah krisis kepemimpinan saja yang kita
perhatikan, tetapi masalah banyaknya orang yang dapat Negara kita ururs dalam
waktu cepat untuk mengahasilkan sumber daya manusia yang berkualitas juga tidak
bisa tidak kita perhatikan.

2006 Gak Kemana2

February 16th, 2007 by isaac-apple

Sebenarnya saya heran sama mereka yang terus Menanyakan "Kemana 2006?" kalo saya mah malah mau nanya kemana "Kakak - kakak kami?". Kemana kakak-kakak kami yang katanya akan mendampingi kami saat kami baru belajar berjalan di dunia ,yang katanya juga, kami baru kenal.

Ada beberapa orang , yang sayangnya gw kenal, malah mendriskriminasikan teman-teman 2006 yang tidak ikut OSKM. Apakah teman-teman yang sayangnya saya kenal ini tahu, ada 2006 yang hampir mingat karena gak boleh OSKM, dilarang oleh orangtua yang lebih berpihak pada rektorat yang dikarenakan pada saat pertemuan, kakak-kakak kami tidak ada ? (saya juga ndak ikut OSKM loh, saya malah "diculik" teman-teman yang katanya swasta, diskusi ala warung kopi di gelap nyanwang)

Sebagian dari kami siap di OS FAk. Kami menunggu, tapi tidak kunjung datang juga. Ada yang mengisi waktu dengan main dota yang beberapa orang berpikir itu adalah aktifitas "haram"(well, it`s just a joke), ada yang aktif di KM, UKM, belajar, tidur,adalh acara mengisi waktu kosong lainnya.

Salah jika 2006 mengisi waktu yang sebenarnya pernah  direncanakan untuk diluangkan untuk acara yang pernah kita prediksikan ada sebelumnya? Lalu, kenapa jika acaranya tak kunjung datang malah teman-teman 2006 yang disalahkan? Bukankah 2006 juga salah satu korban? Korban dari masalh OSKM, dan kami terjepit diantaranya.Korban dari masalah USM 1, 2 dan SPMB ,saya merasa ini aneh, tidak adil malah, jika teman-teman USM 2 dan SPMB belum dijuruskan, sedangkan teman-teman USM 1 sudah (mohon maaf, tidak ada maksud untuk menyinggung teman-teman USM 1, wong saya juga USM 1 kok).

Banyak juga dari kami yang aktif di kegiatan kemahasiswaan, ikut seminar, yang mungkin kalau kami bisa bertemu dan "bermain" dengan kakak-kakak kami, kami akn tahu lebih banyak informasi, lebih banyak jaringan daripada yang sudah kami lakukan sekarang.

Intinya, KAMI MASIH ADA, HANYA MENUNGGU DAN MENGISI WAKTU…!!!

ps: kalo mau komentar sok ajah, saya masih anak-anak yang baru belajar nulis juga katanya

menjadi seorang “mehe”

January 4th, 2007 by isaac-apple

Wakakak…. malam ini adalah malam ter"mehe" dalam hidup gw. jam 12 an gw masih ada di PSIK bersama teman gw yang mehe dan beberapa menit yang lalu ada teman gw juga yang pernah "mehe" karena pernah diputusin dan sekarang sedang tenggelam dengan thesis nya. (PENGKHIANAT LO..!!!)

Teman gw yang satu itu sedang bermasalah dengan perempuan(welll…. cerita ini sebenrnya akan lebi menarik kalo dia "mehe" karena laki2) yang sedang memilih laki2 lain di minggu ini. Btw dude…. lo kan dah dapet jatah minggu lalu…

Dan gw…. karena inspirasi dari seorang teman yang membuat kamar gw jadi setengah kapal pecah, berusaha untuk menerima "kutukan" (ok…. u right thesis man… ) dan membersihkan harapan yang pernah ada. Harapan untuk melupakan, harapan untuk menutup segala kemungkinan, harapan untuk merasa bahwa gw dapat mengontrol semua dengan alasan "masa depan", logika, cita2, yang sebenarnya bisa gw rubah jalannya….

Kutukan…. untuk merasakan perasaan yang memang seharusnya tidak ada karena kita tidak dapat meraba dimensi pararel yang mungkin nyata atau tidak ada. Kutukan untuk merasakan penuyesalan. Terlalu berlebihan huh….?? I think so. but…. have u ever feel this feeling ?

Thanks….. untuk semua waktu yang telah mejadi memory, untuk semua cinta yang pernah mengisi, dan harapan yang selalu menjadi mimpi…..
Sorry, karena telah jadi seorang munafik yang mengatakan hal2 yang ideal sebagai alasan, jarak, perbedaan, dan hal yang sebenarnya bisa diselesaikan….

Hari ini ada cerita yang akhirnya tidak dibuat menggantung…. cerita yang telah usai……
Good Bye……

Dan gw tetap bersama teman "mehe" gw yang udah  bosan mutar lagu super "mehe"
menikmati ke"mehe"an kita walau sadar besok ada UAS… wakakakak…. Ayo kita ber"mehe" gila sampe pagi….. Gak ada lagi jaga "image" di sini, gak ada lagi yang munafik sok berpikir "everythink is ok" or "I`m fine always"…..

December 21st, 2006 by isaac-apple

Menikmati hujan… ternyata cukup menyenangkan. Tidak perduli dengan basah dan sakit yang belum tentu menyerang. Hei… bau tanahnya cukup enak, becek2 kan tidak terlalu menyebalkan. Dingin..?? kata siapa aku tidak cukup kuat menahannya? bukankah aku cukup kuat mengangkat situasi yang belum pernah terangkat?
Aku cukup kuat untuk menikmati hujan. Tidak perlu cemas kawan, walaupun sudah beberapa kali aku pingsan. Tubuh ini tubuhku, aku yang paling tau itu. Tidak hanya tubuhku. terkadang jalan pikiranmu pun aku lebih tau..
tidak anya hujan yang ingin aku nikmati. Gunungpun juga.
Aku tidak bermaksud menaklukannya, hanya ingin menikmati gunung yang
hanya kucintai dari gambar saja. bisakah aku..?
Bisa… aku bisa. beribu orang yang tidak percaya, aku tidak perduli.aku yang paling tahu tentang tubuhku. Aku ingin menikmati hujan di gunung.. menikmati matahari, bau tanahnya… Karena aku mencintainya walaupun belum pernah kurasa.

Aku bisa… bukankah nanti aku akan mendaki puncak tertinggi dunia yang sulit didaki seorang wanita….?